Rabu, 30 September 2009

apresiasi sastra

Apresiasi Sastra
Aperesiasi adalah penghargaan dan pemahaman atas suatu hasil seni atau budaya (natawidjaja, 1982 : 1 ), semenjak kecil manusia sudah bisa berapresiasi dalam merasakan dendangan lagu pengantar tidur pada bayi, pada saat itu bayi sudah bisa merasakan kenikmatan, keindahan yang ia dengarkan. Mengapresiasi sebuah karya sastra tidak hanya memberikan penghargaan saja tetapi kita memahami akan hal atau nilai-nilai yang terkandung di dalam karya sastra tersebut.
Kesadaran untuk memberikan apresiasi terhadap karya sastra sangat jauh bagi penduduk Indonesia di era modern ini. hal itu disebabkan kurangnya minat masyarakat untuk menikmati sebuah karya sastra secara utuh apalagi memahami sebuah karya sastra. Masyarakat Indonesia tidak menyadari akan banyaknya nilai moral dan wawasan yang terkandung dalam karya sastra tersebut. Sebagai contoh, berubahan budaya masyarakat pada saat ini, sebuah keluarga tidak lagi makan bersama di rumah, terkadang seorang anak lebih dahulu makan dari pada orang tua dan orang tua juga tidak meperdulikan hal itu dan dianggap sebuah hal yang biasa. Banyak karya sastra yang mengangkat nilai tersebut dan banyak juga yang tahu akan hal itu tetapi orang tidak menyadari akan pentingnya nilai yang terkandung dalam karya sastra tersebut. maka pada zaman modern ini orang tidak memberikan apresiasi secara utuh pada karya sastra.
Apresiasi masyarakat hanya sampai tingkat penikmat saja. Seperti yang kita alami dalam kehidupan kita sehari-hari, banyak sekali anak muda bahkan orang tua yang suka menonton film di televisi padahal dia sendiri tidak memahami bahasa yang digunakan dalam film tersebut. masalah seperti inilah yang disebut apresiasi tingkat penikmatan yaitu apresiasi yang hanya dilakukan untuk menyenangkan hati, menghibur diri dan membeikan pujian sedangkan ia sendiri tidak menemukan pesan yang terkandung dalam karya sastra tersebut.
Apresiasi tingkat penghargaan, sifat kagum yang ditunjukan oleh penikmat sastra dan ia sudah mulai memuji apa yang ia lihat atau dengar dan ada rasa ingin memiliki. Para penikmat sastra pada tingkat ini sudah memperhatikan kebaikan, nilai, dan manfaat atau mengambil sesuatu yang bermafaat dalam karya sastra dan hanya sebatas napsu untuk memiliki.
Aperesiasi tingkat pemahaman, para penikmat sastra mulai ingin mengetahui atau bersifa studi dan mencari tahu apa yang sedang terjadi pada kerya sastra tersebut bahkan penikmat seni tersebut mulai mencari unsure intrinsic dan ekstinsik dalam karya sastra serta menyelidikinya dan memberikan kesimpulan.
Apresiasi tingkat penghayatan, para penikmat seni mulai membuat analisa lanjut setelah tingkat pemahaman, mencari arti dari pesan yang disampaikan dan berargumentasi serta menafsirkan lebih lanjut. Penikmat seni akan berdiskusi dengan orang lain untuk mencari kesimpulan masalah yang dinikmati jika dikaitkan dengan kehidupan pada zaman sekarang. Para menikmat sastra akan merasakan turut serta untuk mempertimbangkan masalah dan selanjutnya pada tingkat imlikasi, memperoleh daya tepat guna sebuah karya sastra, mereka menemukan manfaat atau nilai yang terkandung dalam karya sastra dan mengimlikasikan dalam kehidupan sehari-hari baik segi budaya, social dan politik.
Karya sastra menceritakan kehidupan atau sifat social kita sehari-hari. Oleh karena itu kita harus lebih banyak membaca hasil karya sastra agar kita tidak terpuruk oleh tipu daya moderenisasi yang kian mempermudah dan menjadikan manusia malas berfikir. Orang tua tidak lagi menjadi orang tua dan seorang anak tidak lagi merasakan perbedaan derajad dengan orang dewasa. Bahkan banyak anak muda terjatuh akibat kebebasannya dan terpaksa menjadi orang dewasa sebelum masanya.
Terima kasih….
dewacurhat@rocketmail.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar